Kronologi :
BAGAIMANA JIKA WALI KETIKA IJAB MENGUCAPKAN
SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN, KEMUDIAN CALON SUAMI MENJAWAB SAYA TERIMA NIKAHNYA
(SAJA), TANPA MENYEBUTKAN KAWINNYA, APAKAH SAH?
Jawab:
Pertama, Nikah dalam pengertian syara’ adalah
akad yang mengandung kebolehan wath’I dengan menggunakan lafadh inkah atau tazwij
atau terjemah dari inkah atau tazwij,
Hasyiyah Al-Bajuri juz 3 halaman 314
قَوْلُهُ : (وَيُطْلَقُ
شَرْعًا : عَلَى عَقْدٍ مُشْتَمِلٍ عَلَى الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ) كَانَ
الْأَوْضَحَ وَالْأَوْلَى أَنْ يَقُولَ كَمَا قَالَ غَيْرُهُ : (عَقْدٌ
يَتَضَمَّنُ إِبَاحَةَ وَطْءٍ بِلَفْظِ إِنْكَاحٍ أَوْ تَزْوِيجٍ أَوْ
تَرْجَمَتِهِ)
Dari definisi pernikahan di atas, salah satu
syarat shighat ijab dan qabul adalah menggunakan lafadh inkah atau
tazwij atau kata yang diterbentuk dari inkah atau tazwij, atau
terjemahan dari kata inkah atau tazwij atau turunannya.
Fathul Mu’in
(
أَرْكَانُهُ ) - أَيْ: النِّكَاحِ - خَمْسَةٌ: ( زَوْجَةٌ، وَزَوْجٌ، وَوَلِيٌّ،
وَشَاهِدَانِ، وَصِيغَةٌ وَشُرِطَ فِيهَا ) - أَيْ: الصِّيغَةِ - ( إِيجَابٌ مِنَ
الْوَلِيِّ )، وَهُوَ ( كَزَوَّجْتُكَ أَوْ أَنْكَحْتُكَ ) مَوْلِيَّتِي
فُلَانَةَ، فَلَا يَصِحُّ الْإِيجَابُ إِلَّا بِأَحَدِ هَذَيْنِ اللَّفْظَيْنِ؛
لِخَبَرِ مُسْلِمٍ: « اتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ، فَإِنَّكُمْ
أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ
اللهِ »، وَهِيَ مَا وَرَدَ فِي كِتَابِهِ، وَلَمْ يَرِدْ فِيهِ غَيْرُهُمَا،
“Rukun nikah ada lima: Calon istri, calon
suami, wali, dua orang saksi dan shighat (ijab qabul), di dalam shighat (ijab
dari wali dan qabul dari calon suami). Contoh kalimat ijab adalah ZAWWAJTUKA
WA ANKAHTUKA MAULIYATI FULANAH. Ijab tidak sah kecuali menggunakan salah
satu dari dua kalimat ini (inkah dan tazwij).”
Kedua, di dalam akad nikah memang ada
syarat tawafuq (keselarasan/kecocokan) antara ijab dan qobul. Tetapi tawafuq
di sini tidak berlaku dalam hal lafadh akad (nikah/kawin). Sehingga ketika
ada perbedaan lafadh akad (nikah/kawin) antara ijab dan qobul, akad tetap sah.
تَنْبِيهٌ : لَا
يُشْتَرَطُ تَوَافُقُ الْوَلِيِّ وَالزَّوْجِ فِي اللَّفْظِ، فَلَوْ قَالَ
الْوَلِيُّ: «زَوَّجْتُكَ» فَقَالَ الزَّوْجُ: «قَبِلْتُ نِكَاحَهَا» صَحَّ،
وَبِهَذَا يَتِمُّ (١) كَوْنُ «أَوْ» فِي كَلَامِ الْمُصَنِّفِ لِلتَّخْيِيرِ
مُطْلَقًا
.
Peringatan (Tanbih): Tidak disyaratkan adanya
kesesuaian lafal antara wali dan calon suami. Jika wali berkata: "Aku
nikahkan/kawinkan engkau..." (Zawwajtuka), lalu calon suami menjawab: "Aku
terima nikahnya" (Qabiltu nikahaha) maka akadnya sah. Dengan penjelasan
ini, sempurna sudah pembahasan huruf "atau" (aw) dalam ucapan mushannif
yang berfungsi untuk memberikan pilihan secara mutlak.
Wallahu a’lam
